Sabtu, 30 Agustus 2008

RENUNGAN AGUSTUSAN

DIRGAHAYU INDONESIAKU

Tahun ini, tahun keempat pemerintahan SBY, waktu terlama bila dibanding masa pemerintahan presiden sebelumnya selepas orde baru. Tentunya banyak hal yang menarik yang perlu dikaji,

sebagaimana sesuai dengan peran kita sebagai mahasiswa apalagi sebagai mahasiswa ekonomi. Momen ulang tahun negara kita yang ke 63 begitu terasa spesial karena di tahun ini banyak momen-momen historis yang perlu direnungi dan tentunya sebagai pemicu untuk memupuk rasa nasionalis kita yang semakin tipis seperti bertepatan dengan 100tahun kebangkitan nasional, 80 tahun sumpah pemuda, dan 10 tahun reformasi.

Pada kesempatan ini, penulis akan mencoba memaparkan hal-hal menarik yang sudah dicapai pemerintah kita selama hampir empat tahun memerintah di negeri yang kaya ini, hasil renungan sebagai wujud kegembiraan penulis di Ulang Tahun Republik ini. Bagaimana nanti pembaca menafsirkan, seluruhnya saya serahkan kepada pembaca.

Dalam pidato presiden, tanggal 15 agustus menjelang hari kemerdekaan kemarin, memberikan gambaran raport pemerintah kita selama masa pemerintahannya, bedanya yang menulis raport tersebut adalah pemerintah sendiri. Ketika membaca raport tersebut, cukup memberikan simpati akan keberhasilan yang sudah dicapai negeri ini dan lagi-lagi mampu memberikan inspirasi yang positif kepada penulis pribadi. Tidak hanya ketika membaca buku yang ditulis juru bicara kepresidenan Dino Pati Jalal yang berjudul ‘kepemimpinan ala SBY’ saya terkesima, namun juga ketika saya membaca pidato kenegaraan tersebut.

Hal yang pertama yang disampaikan presiden adalah hal perasaannya mengenai betapa sulitnya perjuangan membangun negeri ini ketika ribuan masalah menempa negeri ini silih berganti, dan dengan penuh semangat presiden mengatakan ‘apapun masalahnya, kapanpun masanya, seberapapun keterbatasannya, kalau kita bermental BISA, kita semua BISA, dan indonesia pasti BISA!’. Memang benar karena bagaimanapun juga sejarahlah yang kelak akan membedakan antara mereka yang hanya bisa meratapi nasib dengan mereka yang tak pernah menyerah mencari solusi.

Begitu bergema ucapan tersebut di ingatan penulis, apalagi bila membayangkan indonesia yang begitu besar dan kompleks, dari Sabang sampai Merauke dan dari Sangihe Talaud sampai pulau Rote, yang memang menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk membangunnya. Namun, penulis pribadi membenarkan ucapan presiden, seberat apapun masalahnya bila kita berpegang teguh terhadap empat pilar yang mencerminkan jati diri bangsa yang menjadi landasan kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, UUD’45, NKRI dan BHINEKA TUNGGAL IKA niscaya akan memberikan kemudahan untuk menghadapi masalah tersebut.

Di tahun ini, tentunya kita semua ketahui, merupakan tahun yang sulit bagi rakyat Indonesia. Harga minyak sempat mencapi titik tertinggi dalam sejarah, harga pangan di berbagai penjuru dunia melonjak drastis, ekonomi terancam resesi. Dan hasil prediksi bank dunia menyebutkan situasi energi dan pangan tersebut akan berpotensi memicu krisis sosial, ekonomi dan politik tidak hanya bagi negara ini tapi juga di 33 negara lain dan mengakibatkan 100juta orang diseluruh dunia kembali jatuh di bawah garis kemiskinan (disampaikan dalam pidato presiden).

Namun, ditengah situasi tersebut, sepatutnya kita bersyukur, karena kondisi pangan negara kita relatif lebih baik dari banyak negara lain. Dari sumber yang penulis dapatkan, ditahun ini Indonesia pertama kalinya setelah orde baru mencapai swa sembada beras, dimana produksi beras nasional lebih tinggi daripada konsumsinya dan juga untuk pertama kalinya sejak orde baru, harga beras didalam negeri lebih rendah daripada harga beras internasional. Sumber tersebut juga menyebutkan stok beras nasional yang ditetapkan pemerintah mencapai 3 juta ton yang naik dari sebelumnya yang hanya 1 juta ton.


Hal menarik lagi, ditahun ini, kita telah memasuki tahun politik, bahkan tahun kampanye. Tahun depan, 2009, akan diselenggarakan pemilu untuk memilih calon legislatif yang ketiga dalam era reformasi dan pemilihan presiden langsung yang kedua dalam sejarah demokrasi indonesia.

Keberhasilan pemilu 2004 lalu mudah-mudahan mampu memberikan kita inspirasi untuk menjadi pemilih yang baik, bukankah kita semua yang seumur mahasiswa ini sudah menjadi pemilih aktif, sehingga sudah menjadi hak dan kewajiban kita ikut dalam penyelenggarakan pesta demokrasi ini sebagai pemilih aktif dengan menjalankan hak-hak demokrasi kita dengan menghargai hak dan kebebasan orang lain serta bila sedikit mengutip dari ilmu hukum kita juga harus menghargai ketertiban dan pranata hukum (the rule of law). Perlu di ingat Indonesia adalah negara demokrasi terbesar no 3 di dunia.

Nah, beralih ke hal yang menarik berikutnya, sebagai mahasiswa ekonomi (walaupun jurusan saya akuntansi) ingin sedikit memaparkan pembangunan ekonomi yang telah disampaikan SBY dalam pidato kenegaraannya kemarin. Strategi dalam pembangunan ekonomi pemerintah saat ini adalah “pertumbuhan disertai pemerataan” atau “ growth with equity”. Menurutnya, percepatan pembangunan ekonomi telah memberikan dampak yang positif baik pada percepatan penurunan tingkat pengangguran terbuka maupun tingkat kemiskinan. Dari data yang ada, tingkat pengangguran terbuka tahun februari 2006 mencapai 10,5 %, kini menjadi 8,5 % pada februari 2008, tingkat kemiskinan turun dari 17,7% menjadi 15,4% pada maret 2008.

Perlu diketahui oleh kita semua, ada informasi menarik mengenai program pemerintah dalam mengentas kemiskinan. Program tersebut terangkum dalam harmonisasi dan sinergi program yang diterjemahkan dalam tiga klaster program penanggulangan kemiskinan. Klaster pertama, memberikan bantuan sosial pada keluarga kurang mampu contohnya pemberian Raskin, BOS. Klaster kedua, digulirkan program dan anggaran berbasis masyarakat, yang diwadahi dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)Mandiri. Kemudian klaster terakhir adalah pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), termasuk perbaikan iklim berusaha dan penyediaan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Mengenai pendidikan, teman-teman alhmdulilah di APBN 2009 pemerintah telah menetapkan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Penulis pribadi cukup memberikan apresiasi terhadap pemerintah, ditengah anggaran yang sulit katakanlah terlepas dari pro kontra diskusi anggaran dimana-mana, amanat konstitusi sudah dilaksanakan, walaupun terlambat namun memang disadari segala hal tidak ada yang bisa dibuat instan.

Dalam APBN, alokasi anggaran untuk Departemen Pendidikan yang tertinggi bila dibandingkan dengan alokasi anggaran terhadap Departemen yang lain. Anggaran tersebut meningkat dari 78,5 triliun tahun 2005 menjadi154,2 triliun pada tahun 2008. Tentunya kita semua berharap kenaikan tersebut benar-benar digunakan untuk melakukan rehabilitasi gedung sekolah serta kesejahteraan para siswa-siswa yang tidak mampu. Dan yang paling krusial tentunya untuk kesejahteraan guru dan dosen.

Teman-teman, suatu masa memberikan ciri yang berbeda. Jika saat ini demokrasi di negara kita begitu terbuka dan dijunjung tinggi, namun tidak halnya dengan masa-masa sejarah yang lalu. Coba kita sedikit berlayar untuk mengingat kembali cetakan sejarah berdirinya negara kita. Dulu, 1908, pertama kalinya muncul organisasi pergerakan yang bertujuan mulia memperjuangkan kesejahteraan rakyat walaupun dalam skala kecil ditengah kondisi yang tidak jelas dan tidak aman namun perjuangan tersebut terus bergulir dan mampu menginspirasi munculnya organisasi–organisai berikutnya. Kemudian di tahun 1928, persatuan kaum muda pertama kalinya diwujudkan dalam satu deklarasi, suatu komitmen kesepakatan bersama yang melahirkan kesepahaman akan satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air. Dan hal tersebut menjadi sebuah cita-cita besar untuk bersatu dan merdeka. Kemudian di tahun 1945, cita-cita tersebut di eksekusi dengan dikumandangkannya proklamasi kemerdekaan. Namun perjuangan tersebut tidak berakhir begitu saja, penjajah kembali datang, upaya mempertahankan kemerdekaanpun digelar, serangkaian perang dan usaha berdiplomasipun dijalankan sampai berakhir di tahun 1949 melalui kesepakatan KMB, untuk pertamakalinya kedaulatan Indonesia di akui.

Permasalahan terus berlanjut, yang terjadi adalah pergolakan politik didalam negeri, disini sikap nasionalisme benar-benar di uji. Pemberontakan terjadi dimana-mana, disetiap daerah, banyak tuntutan daerah untuk memerdekakan diri dan terbukti sekali lagi ampuhnya Pancasila dan nasionalisme bangsa yang menang. Kisruh politik di pusat juga terjadi, soekarno yang mulai goyah, terjadi perpindahan masa dari sistem presidensial ke parlementar dan sebaliknya. Namun, alhamdulilah semua dapat dihadapi dengan baik.

Masa terus berganti, tak henti-hentinya sejarah terus mengukirnya. Di zaman orde baru, Indonesia mulai menampakkan harapan, era pembangunan telah dicapai. Terlepas dari berbagai permasalahan konspirasi di orde baru, negara kita sudah mulai menemukan jati dirinya. Namun, disini demokrasi kita masih belum beranjak. Kebebasan masih dikukung dalam kandang. Namun kadang saya berpikir mungkin itu menjadi hal baik untuk cepat membangun bangsa.(bila saya bandingkan dengan konsep demokrasi keblablasan).

Di tahun 1998, kembali sejarah diukir, reformasi dan revolusi diteriakkan para mahasiswa, para generasi muda. Mereka menuntut perlunya pergantian masa ke arah yang lebih demokrasi, kelebih terbuka. Dan peristiwa tersebut menutup lembaran orde baru yang cukup lama bertahta di Indonesia.

Masa beralih, kaum muda memenangkan pertarungan, 1998 indonesia mulai meniti kembali perjalanannya di bawah bendera era reformasi. Demokrasi dan kebebasan sudah ditangan, apakah hal tersebut akan dapat menjadi senjata untuk menjalankan pembangunan sebagai amanat bangsa, tentunya sekarang ini kita semua dapat menjawabnya?.

Tak sadar pelayaran tersebut sudah begitu jauh, ada perasaan campur aduk yang menjalar ditubuh ini. “Indonesia tempat lahir beta, disana abadi nan jaya…”.. doa untuk negeriku, doa untuk bangsaku, doa untuk Indonesiaku. Pelayaran tersebut membuatkku tersadar, aku adalah bagian dari bangsa ini, bagian dari segala kemajemukannya dan problematikannya. Terbesit pertanyaan apakah aku mampu menuliskan tinta didalamnya? Ataukah aku hanya bisa membaca akannya? Itu semua masih menjadi renungan, renungan yang seharusnya tidak hanya ku pikirkan sendiri, tapi oleh semua kaum pemuda di Bangsa ini, oleh semua kaum mahasiswa yang mengaku berintelektual tinggi. Renungan kontribusi apa yang bisa ku lakukan untuk bangsa ini…**


Teman-teman, dari hal-hal menarik yang saya sampaikan di atas, dari renungan pelayaran sejarah yang saya critakan, semua itu bermuara menjadi satu gagasan. Terlepas dari ingar-bingar globalisme dan menjamurnya hedonisme yang membuat generasi muda apatis terhadap bangsa, dalam silogisme ini saya menarik sebuah kesimpulan yaitu peran nasionalisme. Entah apa yang sedang teman-teman pikirkan ketika berbicara nasionalisme, sesuatu yang mungkin usang untuk dikuak kembali, pun sesuatu yang mungkin sebagaian orang berpikir ga penting, bahkan di dalam kajian economica sendiri, nasionalisme di identifikasi sebagai sesuatu yang mungkin ada disebabkan oleh klausa sebab akibat artinya jika kita sejahtera di negeri ini maka nasionalisme kita harus tinggi, tapi jika tidak sejahtera ya tidak perlu juga bernasionalisme tinggi. Namun, bagi penulis peran nasionalisme adalah tetap significant.

Rasa nasionalis begitu penting dimiliki seluruh anak bangsa, kenapa..? biang dari segala loyalitas dan kontribusi terhadap bangsa dan negara adalah rasa nasionalis. Bagaimana jiwa kita bergetar ketika setiap Merah Putih dikibarkan dengan damainya, ketika Indonesia Raya dinyanyikan dengan khidmatnya. Seperti kebanggaan ketika 17 agustus lalu secara nasional disiarkan pengibaran Sang saka merah putih didepan elemen bangsa, didepan para duta negara dunia. Hem.. dan yang paling membanggakan ketika malam sebelumnya merah putih dikibarkan di paling atas dan indonesia raya di nyanyikan di kota Beijing ketika emas olimpiade berhasil direbut pasangan bulutangkis Hendra Setiawan dan Markis Kido. Sungguh begitu hebatnya negeri ini.

Rasa nasionalisme merupakan cerminan akan memiliki bangsa ini, juga merupakan manifestasi dari kebanggaan lahir di negeri ini. Rasa nasionalisme tersebut mampu memberikan aura positif kepada negara untuk terus maju, tumbuh dan berkembang. Karena dengan rasa nasionalisme, kita telah memberikan dukungan berjalannya roda pemerintahan di negeri ini . Artinya, kita mampu menjadi warga negara yang baik, yang selalu berpikir positif, kritis yang konstruktif.

Sekian uraian renungan dari saya, perjuangan dan pergerakan terus berlanjut. Keberhasilan Indonesia saat ini merupakan langkah awal yang baru saja di capai, masih banyak ribuan langkah untuk nanjak ke atas. Apakah kita ikut memandu di dalam ribuan langkah tersebut??, itu bergantung pada diri masing-masing. Terus semangat, berjuang dan berkontribusi!!

Dirgahayu negeriku, dirgahayu indonesiaku, MERDEKA!!


Hadi.purnomo


1 komentar:

mandcrut mengatakan...

mungkin nasionalisme yang pengen lu tonjolin disini agak kurang menohok, karena dari awal tulisan lu hanya memaparkan program pemerintah, dan tidak menyoroti program2 yang eksternal, eksogenus, seperti tayangan sinetron yang tidak mendidik, etc...

ketika lu bermaksud untuk menjadikan tulisan ini sebagai cambuk untuk lebih nasionalis, gue rasa kurang kena, di..