Hadi.purnomo/ pusgerak BEM-UI
Pendidikan merupakan salah satu hak yang dimiliki oleh setiap warga negara, disamping hak mendapatkan kesejahteraan, hak berbicara, dan hak berkeadilan, pendidikan merupakan hak dasar yang harus dijunjung tinggi dan diperjuangkan oleh setiap elemen bangsa.
Alasan lain yang memperkuat begitu pentingnya pendidikan adalah unsur intelektualitas. Karena dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan tersebut akan mencerminkan kadar kemajuan suatu bangsa. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan pengetahuan bangsa tersebut semakin tinggi pula kenajuan dan peradabannya. Sehingga negara harus menjamin hal tersebut, menjamin berlangsungnya pendidikan dengan baik dan merata bagi seluruh warga dan negaranya. Seperti dituangkan dalam UUD 1945 amandemen ke empat pasal ke 30 yang menyatakan bahwa ‘setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya’.
Artinya bahwa proses pelaksanaan pendidikan tersebut benar-benar merupakan kewajiban Negara. Baik proses penyelenggaraanya maupun proses pembinaanya.
Penyelenggaraan pendidikan tersebut begitu kompleks, banyak komponen-komponen yang perlu diperhatikan. Komponen-kompenen tersebut meliputi sistem pendidikannya, jaminan terhadap proses pengajaran yang juga meliputi tenaga pendidiknya, serta alat-alat pelengkap pendidikan seperti buku dan lain sebagainnya. Hal-hal tersebut harus dilakukan secara integral, karena ketika dalam penyelenggaraan pendidikan komponen-komponennya tidak disiapkan secara maksimal maka yang terjadi adalah hasil dari penyelenggaraan pendidikan tersebut juga tidak akan maksimal.
Saat ini pendidikan masih menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat kelas tiga di Negara ini. Kenapa? Apa lagi kalau bukan masalah biaya. Pendidikan dirasa begitu mahal. Tulisan ini dibuat juga akan banyak menyoroti program BOS dan buku murah yang sudah dicanangkan oleh Depdiknas, program yang selalu menggembar-nggemborkan perhatian pemerintah dalam hal pendidikan. Tapi nyatanya nonsen… lihat saja setiap awal ajaran baru permasalahan ketidakberesan departemen yang satu ini selalu terkuak.
Awal tahun ini telah diterbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no 2 tahun 2008, intisari dari permendiknas tersebut adalah bahwa pemerintah telah berbaik hati mengurangi beban peserta didik dalam menyelenggarakan program buku murah, hal ini dilakukan supaya meringankan beban orang tua yang merasa bahwa pengadaan buku untuk menunjang pendidikan dirasa mahal. Tak segan-segan program buku murah ini juga menerbitkan buku secara online, katanya masyarakat bebas mengambil dan mendonwload buku ini. Gratis. Namun setelah ditelusuri dalam Permendiknas ini berefek pada pemotongan bantuan BOS. Dengan alasan masyarakat sudah dibantu dengan adanya program buku murah. Menarik sekali, peraturan tersebut begitu mulus keluar bahkan dengan penuh bangga publikasi mengenai jenis buku online tersebut ditetapkan dan diharapkan supaya menjadi standar untuk panduan belajar peserta didik. Dan dengan menambah kebaikan hati departemen ini, pihak sekolah boleh mencetak buku ini dan menjualnya kepada siswa dengan harga yang wajar dan sudah ditetapkan sebelumnya (berkisar dua puluh ribuan). Menarik sekali bukan.
Nah berikut akan saya ulas hal-hal menarik yang dengan bangga sudah dikeluarkan oleh DepDiknas melalui Permendiknas.
1. Permendiknas no 2 tahun 2008 ini begitu unik, kenapa, program buku murah yang diselenggarakannya kok berlawanan dengan isi UUD 1945 amandemen 4 pasal 30 yang sudah diuraikan sebelumnya, bahwa sudah menjadi kewajiban Negara dalam penyelenggaraan pendidikan. Artinya bila sesuai dengan aturan pasal tersebut program yang seharusnya diselenggarakan oleh DepDikNas adalah program buku gratis bukan program buku murah. Namun kenyataannya…
terlalu berinovasi departemen ini!!
2. Bentuk dari buku murah adalah buku online, dimana masyarakat bebas mendonwload dan mengambilnya… pola pikir yang baik dan sederhana sekali. Bayangkan, masyarakat dipedalaman Kalimantan, atau bahkan pedalaman jawa dan Sumatra. Jangankan mendowload, internet aja mereka tidak tahu, jenis makanan apa. Menurut data saja penyebaran internet di Indonesia baru mencapai 7%, lalu bagaimana dengan daerah yang 93% tersebut??. Belum lagi biaya mendowload, diukur dari biaya internet yang masih mahal dipedalaman dan waktu yang cukup lama mendownloadnya, tentunya akan menyebabkan justru makin mahalnya biaya download tersebut. Hal ini dipikir sederhana apa…!!!
3. Mendiknas juga meng inisiasikan jenis buku sesuai yang sudah di upload secara online. Artinya jika pengen buku murah semua harus memakai jenis buku tersebut yang sudah di inisiasikan. Padahal sebelum-sebelumnya jenis buku sesuai dengan kondisi pengajaran dan selalu di rekomendasikan oleh guru. Karena tiap daerah memiliki culture yang berbeda sehingga banyak buku yang ditampilkan secara berbeda dengan tidak mengurangi standar silabusnya. Dengan menginisiasi jenis buku yang akan digunakan sebagai bahan ajar, mendiknas telah memposisikan dirinya yang serba tahu akan kebutuhan pendidikan. Sangat berlawanan sekali dengan konsep Manajemen Berbasis Sekolah dan Kurikulum Tingkat Sekolah yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Dan hal ini kembali ke era orde baru awal, ketika semua jenis buku ditetapkan oleh pemerintah yang terjadi apa, justru penyelewengan materi demi kepentingan pemerintah. Seperti kasus penyelewengan sejarah di jaman soeharto dulu.
4. Adanya kewenangan bagi pihak sekolah untuk memperdagangkan buku online tersebut.. wah efek dari kewenangan ini begitu besar dan rawan sekali dengan korupsi. Jadi heran bagaimana pola pikir Mendiknas dalam memberikan kewenangan ini. Tanpa adanya kewengan ini aja pratek illegal bisnis buku sudah seringkali di lakukan oleh pihak sekolah. Dengan adanya kewengan ini mendiknas telah memperlihatkan ketidakmampuanya dalam menyejahterakan tenaga pendidiknya. Sehingga segala proyekpun dilegalkan untuk menambah uang saku tenaga pengajarnya.
Berikut, hal-hal yang menarik pada wajah pendidikan di negeri kita. Dan sedikit sekali yang peduli dan mau berkontribusi. Teman-teman suatu bangsa akan cepat sekali maju dan berkembang jikalau perhatian terhadap pendidikannya tidak dikesampingkan. Namun, tidak halnya pada negeri kita…
Semoga, ini akan menjadi cermin yang membawa keamajuan
Terima kasih!!!
Rabu, 23 Juli 2008
PERAN SEKTOR INFORMAL TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI
Pertumbuhan ekonomi suatu Negara sebagaimana yang sudah kita ketahui menggambarkan kondisi perekonomian Negara saat ini yang dibandingkan dengan kondisi perekonomian Negara sebelumnya dan dimodelkan secara kuantitatif. Angka kuantitatif tersebut tercermin dalam nilai GDP suatu Negara, yang unsur-unsur penyusunnya meliputi konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan net export.
Secara garis besar ada dua sektor kehidupan masyarakat yang berkontribusi maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi tersebut. Sektor tersebut meliputi sektor formal dan sektor informal, dimana secara terminologi sector formal adalah bidang usaha yang berskala besar dan terdaftar resmi sebagai sektor ekonomi sedangkan kebalikanya sektor informal lebih kearah usaha dalam skala kecil yang sifatnya berupa kumpulan kegiatan-kegiatan ekonomi yang tidak resmi.
Pada tulisan ini, akan di jabarkan bagaiamana peran sektor informal tersebut didalam pertumbuhan ekonomi di Negara kita. Tidak menutup mata, Indonesia yang masih mempunyai status sebagai Negara berkembang komponen terbesar dalam GDP nya merupakan hasil dari kegiatan sektor informal ini. Dan untuk lebih mengenal apa itu sektor informal berikut akan diulas singkat ciri-ciri dari sektor tersebut.
รจ Sektor informal
Istilah sektor informal biasanya digunakan untuk menunjukkan sejumlah kegiatan ekonomi yang berskala kecil. Namun sektor ini juga dianggap sebagai manifestasi situasi pertumbuhan kesempatan kerja. Karena untuk berkecimpung di kegiatan ekonomi sektor informal ini sangat mudah dan sederhana. Biasanya mereka yang terlibat dalam sektor ini umumnya miskin, berpendidikan sangat rendah, tidak terampil dan kebanyakan para migran. Dan tujuan utama mereka dalam menjalankan kegiatan ekonomi ini adalah untuk menghidupi kehidupan ekonominya.
Ciri lain adalah menurut data BPS 65,4% pekerja di Indonesia bekerja dan bertumpu hidupnya pada sektor informal sedangkan sisanya yaitu sebesar 34,6% bekerja di sektor formal. Data tersebut Menggambarkan begitu jelas bahwa sektor informal masih memegang peranan yang cukup significant dalam roda ekonomi Negara kita.
Dan terakhir ulasan mengenai ciri dari sector ini bahwa sektor ini mempunyai asas yang sama dengan konsep pembangunan yang diperkenalkan oleh Todaro 2000. bahwa, pembangunan ekonomi memenuhi tiga komponen dasar yang dijadikan sebagai basis konseptual dan pedoman praktis dalam memahami pembangunan yang hakiki yaitu kecukupan(sustenance), jati diri (self-esteem) serta kebebasan (freedom).
Nah, dari ulasan tersebut diatas. Secara sederhana dapat dimengerti konsep serta ciri dari sektor informal tersebut. Untuk lebih memahaminya, sektor informal di Indonesia meliputi usaha-usaha kecil yang banyak dipinggir jalan, UKM-UKM kecil, usaha musiman, serta jasa sederhana. Usaha-usaha tersebut begitu banyak, sehingga mampu memfokuskan roda perekonomian pada sektor tersebut.
Secara data belum dapat diketahui dengan pasti berapa kontribusi sesungguhnya sektor informal ini menyumbangkan terhadap GDP Indonesia. Namun dari indikasi yang ada seperti bila dilihat dari besarnya jumlah pekerja di Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini serta banyaknya jenis usaha-usaha informal tersebut di Indonesia, saya cukup yakin bahwa kontribusi sektor ini terhadap GDP cukup significant. Berikut data yang saya dapat mengenai banyaknya pekerja sektor informal di berbagai lapangan usaha.
Pada tahun 2002 tampak bahwa pekerja di bidang usaha pertanian, kehutanan, perburuan, perikanan sebanyak 91,92% berada di sektor informal sedangkan pekerja di bidang usaha perdagangan besar, eceran, rumah makan sebanyak 78,07% berada di sector informal. Dari data tersebut, saya berasumsi ketika pendapatan utama dari sebagaian besar masyarakat Indonesia didapat dari sektor informal dan pendapatan tersebut merupakan sumber dari pengeluaran mereka sehari-har (source of income). Bisa disimpulkan bahwa sumbang sih terhadap pengeluaran nasional yang merupakan unsur dari GDP juga dari sektor Informal. Dan hal tersebut cukup significant.
Lebih jauh lagi mengenai sector informal ini, dari analisa sederhana sektor ini mempunyai banyak segi positif dibanding sektor formal. Kelebihan tersebut seperti,
Daya Tahan
Sektor ini terbukti memiliki daya tahan yang tinggi. Terlihat pada saat krisis, sektor ini tidak hanya dapat bertahan namun juga mampu berkembang dengan pesat. Hal tersebut disebabkan faktor permintaan dan penawaran. Di sisi permintaan, akibat krisis pendapatan riil masyarakat turun sehingga terjadi pergeseran permintaan masyarakat dari barang-barang formal ke barang-barang non formal. Dengan alasan bahwa harga dari barang-barang formal yang sulit dijangkau. Misalnya yang paling sederhana, sebelum krisis terjadi kebiasaan orang kantor menghabiskan waktu makan siangnya untuk makan di restoran atau rumah makan yang mahal namun ketika terjadi krisis mereka cenderung beralih ke rumah makan pinggir jalan (warteg).
Dari sisi penawaran, ketika krisis banyak sekali pegawai yang di PHK dari sektor formal, ditambah juga banyaknya angkatan kerja yang sulit mendapat pekerjaan. Sehingga mengakibatkan supply tenaga kerja dan pengusaha di sektor informal meningkat. Dengan alasan bahwa, usaha di sector informal memang tergolong mudah. Hal ini membuktikan bahwa sektor informal ini mempunyai daya tahan yang baik.
Padat Karya.
Dari data yang disebut pada ulasan sebelumnya jelas terbukti bahwa sector ini mampu menghasilkan banyak tenaga kerja. Bahkan sekalipun dilihat dari lapangan usaha jelas sekali banyaknya angkatan kerja yang berkecimpung di sektor ini. Hal tersebut juga worth it terhadap modal dan usaha untuk masuk ke sektor ini. Modalnya begitu kecil, dan usaha untuk memulai bekerja juga mudah akibatnya hasil yang diperoleh juga sangat kecil. Namun bagi kalangan bawah, hal tersebut sudah mampu untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Keahlian Khusus (Tradisional).
Hal yang positif lagi didalam sektor informal ini adalah adanya keahlian kusus dalam membuat produk. Banyaknya inovasi-inovasi yang dikeluarkan oleh tangan-tangan dingin mereka. Terlihat dari jenis-jenis produk yang dibuat oleh industri kecil dan industri rumah tangga, umumnya produk-produk mereka begitu inovatif dan sangat mampu bersaing bahkan sampai ke tingkat perdagangan internasional. Hal ini membuktikan bahwa sektor ini mampu merangsang para pekerjannya untuk terus berinovasi dan terus memiliki keahlian khusus untuk selalu dapat survive. Sehingga satu lagi ciri positif dari sektor ini adalah pekerjanya sangat adaptif, yang pandai menyesuaikan diberbagai situasi.
Permodalan
Salah satu kemudahan dalam sector ini juga terlihat dalam permodalannya. Untuk usaha yang paling kecil, modalnya juga sangat kecil sehingga memungkinkan untuk memakai tabungan sendiri. Dalam kaitannya dengan modal, pemerintah juga cukup membantu dengan kucuran kredit, jadi hal tersebut dapat dijadikan alternatif untuk mengembangkan usaha di sector ini.
Hal yang paling dasar pada sector ini sebenarnya bukan terletak pada modal namun, terletak pada keuletan pekerjanya. Kenapa, walaupun merintis usaha dari 0 dengan modal yang sangat kecil jika kita ulet tentunya banyak sekali jalan untuk mengembangkan sector ini. Banyak sekali contoh sukses yang telah menginspirasi. Seperti misalkan, banyak sekali restoran-restoran besar yang sudah mampu berwaralaba dulunya juga dimulai dari warung klontong yang sederhana.
Disamping hal-hal positif diatas. Ada juga kelemahan yang dimiliki sektor ini. Kelemahan-kelemahan tersebut diidentifikasikan sebagai penghambat kemajuan dari sektor ini dan juga kemampuan sektor ini untuk bersaing dengan sektor formal. Dan hal-hal tersebut meliputi, modal, skill, pemasaran, penyediaan bahan baku, keterbatasan sumber daya manusia, pengetahuan minim mengenai bisnis dan kurangnya peguasaan teknologi.
Untuk menanggapi kelemahan sektor informal ini, pemerintah seharusnya bisa campur tangan dengan menyelenggarakan berbagai macam penyuluhan. Seperti misal penyuluhan dalam hal pemasaran, kemudian pelatihan skill yang dibutuhkan, dan penyuluhan teknologi. Pemerintah harus benar-benar meyadari bahwa sector ini merupakan roda penggerak perekonomian nasional, paradigma itu yang perlu ditanamkan, jangan selalu membuat kebijakan yang justru mematikan para pekerja yang potensial ini. Seperti contoh, penggusuran dan pembersihan kota dari para pedagang kaki lima seharusnya diberikan solusi yaitu diberikan tempat yang sesuai.
Kenapa sektor ini perlu diperhatikan, karena sektor ini masih memiliki banyak peluang-peluang yang perlu dikembangkan. Sebagai kesimpulan dari tulisan ini, saya melihat bahwa khususnya di Indonesia peluang dari sektor ini juga merangkap sebagai perannya terhadap perekonomian Negara adalah sebagai penyerap tenaga kerja dan sebagai penyedia kebutuhan bagi sebagaian besar masyarakat Indonesia. Sebagai penyedia lapangan kerja jelas, terlihat dari persentasi angkatan kerja yang masuk ke sektor ini. Kemudian, sebagai penyedia kebutuhan bagi sebagaian besar masyarakat Indonesia dilihat dari produk-produk yang ditawarkan yang sangat terjangkau oleh sebagain besar kalangan masyarakat di Indonesia yaitu kalangan menengah dan kalangan kebawah. Sehingga sekali lagi potensi-potensi tersebut perlu dikembangkan dengan cara menaruh perhatian yang lebih pada sektor ini. Ikut menumbuh kembangkan dan mengelolanya. Karena bagaimanapun juga, penulis meyakini bahwa kemajuan ekonomi di Indonesia tak lepas dari ekonomi yang berbasis kerakyatan…
TERIMA KASIH
Hadi.purnomo/ kajian BO Economica
Secara garis besar ada dua sektor kehidupan masyarakat yang berkontribusi maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi tersebut. Sektor tersebut meliputi sektor formal dan sektor informal, dimana secara terminologi sector formal adalah bidang usaha yang berskala besar dan terdaftar resmi sebagai sektor ekonomi sedangkan kebalikanya sektor informal lebih kearah usaha dalam skala kecil yang sifatnya berupa kumpulan kegiatan-kegiatan ekonomi yang tidak resmi.
Pada tulisan ini, akan di jabarkan bagaiamana peran sektor informal tersebut didalam pertumbuhan ekonomi di Negara kita. Tidak menutup mata, Indonesia yang masih mempunyai status sebagai Negara berkembang komponen terbesar dalam GDP nya merupakan hasil dari kegiatan sektor informal ini. Dan untuk lebih mengenal apa itu sektor informal berikut akan diulas singkat ciri-ciri dari sektor tersebut.
รจ Sektor informal
Istilah sektor informal biasanya digunakan untuk menunjukkan sejumlah kegiatan ekonomi yang berskala kecil. Namun sektor ini juga dianggap sebagai manifestasi situasi pertumbuhan kesempatan kerja. Karena untuk berkecimpung di kegiatan ekonomi sektor informal ini sangat mudah dan sederhana. Biasanya mereka yang terlibat dalam sektor ini umumnya miskin, berpendidikan sangat rendah, tidak terampil dan kebanyakan para migran. Dan tujuan utama mereka dalam menjalankan kegiatan ekonomi ini adalah untuk menghidupi kehidupan ekonominya.
Ciri lain adalah menurut data BPS 65,4% pekerja di Indonesia bekerja dan bertumpu hidupnya pada sektor informal sedangkan sisanya yaitu sebesar 34,6% bekerja di sektor formal. Data tersebut Menggambarkan begitu jelas bahwa sektor informal masih memegang peranan yang cukup significant dalam roda ekonomi Negara kita.
Dan terakhir ulasan mengenai ciri dari sector ini bahwa sektor ini mempunyai asas yang sama dengan konsep pembangunan yang diperkenalkan oleh Todaro 2000. bahwa, pembangunan ekonomi memenuhi tiga komponen dasar yang dijadikan sebagai basis konseptual dan pedoman praktis dalam memahami pembangunan yang hakiki yaitu kecukupan(sustenance), jati diri (self-esteem) serta kebebasan (freedom).
Nah, dari ulasan tersebut diatas. Secara sederhana dapat dimengerti konsep serta ciri dari sektor informal tersebut. Untuk lebih memahaminya, sektor informal di Indonesia meliputi usaha-usaha kecil yang banyak dipinggir jalan, UKM-UKM kecil, usaha musiman, serta jasa sederhana. Usaha-usaha tersebut begitu banyak, sehingga mampu memfokuskan roda perekonomian pada sektor tersebut.
Secara data belum dapat diketahui dengan pasti berapa kontribusi sesungguhnya sektor informal ini menyumbangkan terhadap GDP Indonesia. Namun dari indikasi yang ada seperti bila dilihat dari besarnya jumlah pekerja di Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini serta banyaknya jenis usaha-usaha informal tersebut di Indonesia, saya cukup yakin bahwa kontribusi sektor ini terhadap GDP cukup significant. Berikut data yang saya dapat mengenai banyaknya pekerja sektor informal di berbagai lapangan usaha.
Pada tahun 2002 tampak bahwa pekerja di bidang usaha pertanian, kehutanan, perburuan, perikanan sebanyak 91,92% berada di sektor informal sedangkan pekerja di bidang usaha perdagangan besar, eceran, rumah makan sebanyak 78,07% berada di sector informal. Dari data tersebut, saya berasumsi ketika pendapatan utama dari sebagaian besar masyarakat Indonesia didapat dari sektor informal dan pendapatan tersebut merupakan sumber dari pengeluaran mereka sehari-har (source of income). Bisa disimpulkan bahwa sumbang sih terhadap pengeluaran nasional yang merupakan unsur dari GDP juga dari sektor Informal. Dan hal tersebut cukup significant.
Lebih jauh lagi mengenai sector informal ini, dari analisa sederhana sektor ini mempunyai banyak segi positif dibanding sektor formal. Kelebihan tersebut seperti,
Daya Tahan
Sektor ini terbukti memiliki daya tahan yang tinggi. Terlihat pada saat krisis, sektor ini tidak hanya dapat bertahan namun juga mampu berkembang dengan pesat. Hal tersebut disebabkan faktor permintaan dan penawaran. Di sisi permintaan, akibat krisis pendapatan riil masyarakat turun sehingga terjadi pergeseran permintaan masyarakat dari barang-barang formal ke barang-barang non formal. Dengan alasan bahwa harga dari barang-barang formal yang sulit dijangkau. Misalnya yang paling sederhana, sebelum krisis terjadi kebiasaan orang kantor menghabiskan waktu makan siangnya untuk makan di restoran atau rumah makan yang mahal namun ketika terjadi krisis mereka cenderung beralih ke rumah makan pinggir jalan (warteg).
Dari sisi penawaran, ketika krisis banyak sekali pegawai yang di PHK dari sektor formal, ditambah juga banyaknya angkatan kerja yang sulit mendapat pekerjaan. Sehingga mengakibatkan supply tenaga kerja dan pengusaha di sektor informal meningkat. Dengan alasan bahwa, usaha di sector informal memang tergolong mudah. Hal ini membuktikan bahwa sektor informal ini mempunyai daya tahan yang baik.
Padat Karya.
Dari data yang disebut pada ulasan sebelumnya jelas terbukti bahwa sector ini mampu menghasilkan banyak tenaga kerja. Bahkan sekalipun dilihat dari lapangan usaha jelas sekali banyaknya angkatan kerja yang berkecimpung di sektor ini. Hal tersebut juga worth it terhadap modal dan usaha untuk masuk ke sektor ini. Modalnya begitu kecil, dan usaha untuk memulai bekerja juga mudah akibatnya hasil yang diperoleh juga sangat kecil. Namun bagi kalangan bawah, hal tersebut sudah mampu untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Keahlian Khusus (Tradisional).
Hal yang positif lagi didalam sektor informal ini adalah adanya keahlian kusus dalam membuat produk. Banyaknya inovasi-inovasi yang dikeluarkan oleh tangan-tangan dingin mereka. Terlihat dari jenis-jenis produk yang dibuat oleh industri kecil dan industri rumah tangga, umumnya produk-produk mereka begitu inovatif dan sangat mampu bersaing bahkan sampai ke tingkat perdagangan internasional. Hal ini membuktikan bahwa sektor ini mampu merangsang para pekerjannya untuk terus berinovasi dan terus memiliki keahlian khusus untuk selalu dapat survive. Sehingga satu lagi ciri positif dari sektor ini adalah pekerjanya sangat adaptif, yang pandai menyesuaikan diberbagai situasi.
Permodalan
Salah satu kemudahan dalam sector ini juga terlihat dalam permodalannya. Untuk usaha yang paling kecil, modalnya juga sangat kecil sehingga memungkinkan untuk memakai tabungan sendiri. Dalam kaitannya dengan modal, pemerintah juga cukup membantu dengan kucuran kredit, jadi hal tersebut dapat dijadikan alternatif untuk mengembangkan usaha di sector ini.
Hal yang paling dasar pada sector ini sebenarnya bukan terletak pada modal namun, terletak pada keuletan pekerjanya. Kenapa, walaupun merintis usaha dari 0 dengan modal yang sangat kecil jika kita ulet tentunya banyak sekali jalan untuk mengembangkan sector ini. Banyak sekali contoh sukses yang telah menginspirasi. Seperti misalkan, banyak sekali restoran-restoran besar yang sudah mampu berwaralaba dulunya juga dimulai dari warung klontong yang sederhana.
Disamping hal-hal positif diatas. Ada juga kelemahan yang dimiliki sektor ini. Kelemahan-kelemahan tersebut diidentifikasikan sebagai penghambat kemajuan dari sektor ini dan juga kemampuan sektor ini untuk bersaing dengan sektor formal. Dan hal-hal tersebut meliputi, modal, skill, pemasaran, penyediaan bahan baku, keterbatasan sumber daya manusia, pengetahuan minim mengenai bisnis dan kurangnya peguasaan teknologi.
Untuk menanggapi kelemahan sektor informal ini, pemerintah seharusnya bisa campur tangan dengan menyelenggarakan berbagai macam penyuluhan. Seperti misal penyuluhan dalam hal pemasaran, kemudian pelatihan skill yang dibutuhkan, dan penyuluhan teknologi. Pemerintah harus benar-benar meyadari bahwa sector ini merupakan roda penggerak perekonomian nasional, paradigma itu yang perlu ditanamkan, jangan selalu membuat kebijakan yang justru mematikan para pekerja yang potensial ini. Seperti contoh, penggusuran dan pembersihan kota dari para pedagang kaki lima seharusnya diberikan solusi yaitu diberikan tempat yang sesuai.
Kenapa sektor ini perlu diperhatikan, karena sektor ini masih memiliki banyak peluang-peluang yang perlu dikembangkan. Sebagai kesimpulan dari tulisan ini, saya melihat bahwa khususnya di Indonesia peluang dari sektor ini juga merangkap sebagai perannya terhadap perekonomian Negara adalah sebagai penyerap tenaga kerja dan sebagai penyedia kebutuhan bagi sebagaian besar masyarakat Indonesia. Sebagai penyedia lapangan kerja jelas, terlihat dari persentasi angkatan kerja yang masuk ke sektor ini. Kemudian, sebagai penyedia kebutuhan bagi sebagaian besar masyarakat Indonesia dilihat dari produk-produk yang ditawarkan yang sangat terjangkau oleh sebagain besar kalangan masyarakat di Indonesia yaitu kalangan menengah dan kalangan kebawah. Sehingga sekali lagi potensi-potensi tersebut perlu dikembangkan dengan cara menaruh perhatian yang lebih pada sektor ini. Ikut menumbuh kembangkan dan mengelolanya. Karena bagaimanapun juga, penulis meyakini bahwa kemajuan ekonomi di Indonesia tak lepas dari ekonomi yang berbasis kerakyatan…
TERIMA KASIH
Hadi.purnomo/ kajian BO Economica
Langganan:
Postingan (Atom)
